Labels: ,

Jakarta Fair 2014 : Pameran Kebudayaan


by Dhipie Kuron

Perhelatan yang telah menjadi icon perayaan ulang tahun Jakarta baru saja berakhir. Jakarta Fair 2014 yang di gelar sejak 6 Juni sampai 6 Juli 2014 di JiExpo Kemayoran tetap saja dipadati pengunjung sekalipun pelaksanaannya kali ini bersamaan dengan gempita piala dunia dan kekhusuyukan Ramadhan di penghujung pelaksanaannya. Para sales promotion girl sexy yang menjadi ciri dari Jakarta Fair dengan pakaian lebih tertutup di minggu terakhir Jakarta Fair saat saya berkesempatan mengunjungi. Lagi-lagi karena urusan bekerja saya bisa menghampiri kemeriahan pekan raya ini.

Jakarta Fair bak muara dua aliran kebudayaan. Kebudayaan tradisional yang diwakili berbagai jajanan khas betawi seperti Toge Goreng, Kerak Telor, Es Selendang Mayang dan Laksa Pengantin, beradu muka dengan simbol-simbol budaya modern, yakni berbagai teknologi terbaru yang diwakili booth-booth otomotif, selular, dan elektronik. Penawaran potongan harga, kuis berhadiah, undian, dan info produk bersahut-sahutan diteriakan oleh para pembawa acara dari berbagai booth. 

Di antara keragaman ada sudut yang menarik mata saya. Spanduk berwarna ungu membentangkan tulisan India Pavilion di area Gambir Expo. Selalu bagi saya India menjadi menarik, karena pernak-pernik India selalu menjadi obat rindu yang mujarab, melipur lara karena belum bisa pulang ke rumah kedua. Memasuki area yang berada di bawah area perkantoran JiExpo aroma dupa yang biasa tercium dari rumah-rumah di India yang masih setia pada puja, menyergap penciuman. Telinga pun disapa oleh lantunan lagu-lagu india yang berdentam dari pengeras suara. 


Bagian Depan area tersebut diisi oleh booth kerajinan kulit asal Gujarati. Berbagai ukuran dompet dan tas berbaris memenuhi meja. Kemudian kerajinan sepatu asal Kashmir mendominasi area India Pavilion. Sedikit berbicara dengan pengisi booth. Kerajinan ini memang diimpor dari India, namun pedagang yang datang tak semua dari India, ada peserta pameran yang datang dari Negara serumpun Indonesia: Malaysia. 

Kawan, secara tradisi, memasak untuk keluarga adalah bagian penting dalam keseharian seorang istri di India. Tak mengherankan jika peralatan masak tak luput jadi pengisi booth. Dengan cekatan seorang pria berhidung bangir mempraktekan cara memotong berbagai jenis sayuran dalam waktu sekejap. Ah andai saya masih di India tentu saya akan berburu alat serupa, mengingat memasak masakan India dengan berbagai detil bumbu, tentu perlu alat pendukung yang dapat menyingkat waktu. 


Bersisian dengan booth pisau ajaib, terletak booth yang menampilan jajaran cakram digital serta beberapa kertas bertuliskan tentang teknik belajar matematika. Sebagai seorang Ibu yang lemah dengan urusan angka tentu saya berharap puteri semata wayangku menjadi lebih pandai, namun sayang teknik belajar matematika yang disajikan ditujukan untuk anak yang telah lepas sekolah dasar. Saya bertanya adakah produk untuk anak Balita, namum yang ditawarkan adalah belajar matematika melalui nursery rhymes . Pria yang tampil kelimis dengan rambut mengkilap bersemir minyak kelapa itu pun memutarkan CD yang berisi nursery rhymes. Saya tak menemukan keunikan dari hal yang dipertontonkan. Lagu-lagu yang diputarkan dengan album-album nursery rhymes yang mudah ditemui di pasaran, menurunkan nafsu belanja saya. Penjaja tak kalah alasan, dia sampaikan kalau animasi ini lebih baik karena buatan animator dari India. Memang benar kawan, jika kita sempat meneliti akhir dari berbagai film animasi di pasaran nama-nama khas India akan muncul sebagai orang-orang di belakang layar kesuksesan film-film kartun itu, termasuk buatan perusahaan-perusahaan film besar di Hollywood sana.



Di pojok belakang ada batu berharga dan kemilau Kristal yang menarik mata. Beberapa tangkai bunga chrysant dilekatkan di dinding, tampak sederhana dan sementara karena menggunakan solasi saja. Photo dari Sai Baba Shirdi, orang suci yang dipuja banyak manusia dan diyakini membawa keajaiban menjadi sentra dari seluruh hiasan. Aroma dupa terasa lebih kuat, ternyata ada sekitar empat dupa yang masih menyala, bersandar di lubang plug in listrik. Sungguh mengabaikan keselamatan dunia tetapi mungkin keyakinan akan keselamatan yang kasat mata menjadikan perempuan ber-sari cantik ini. Aku merapat kesitu, dan ternyata hari itu Tuhan menjodohkan saya untuk membantu pemilik booth kelas numerology di pojok ruang pavilion India. Petugas penerjemah yang seharusnya mendampingi berhalangan hadir. Selain menyediakan kelas untuk belajar numerology, Sangeeta Dhawan konon adalah seorang "numerologist" ternama di India ini bersedia memberikan konsultasi. Dengan pelanggan yang sebagian besar tak berbahasa Inggris ia memerlukan bantuan. terlebih tak lama dari kehadiranku seorang wanita paruh baya datang. Kedatangannya semula hanya tertarik dengan bebatuan dan perhiasan cantik yang bertebaran di meja, dengan piawai menawarinya jasanya. Wanita yang kemudian kuketahui bekerja untuk sebuah LSM menolak halus, dengan alasan ia tak mempunyai dana. Sangeeta tetap berkeras, dan berkata ia tak menarif, hingga akhirnya luluh lah perempuan itu Ramalan pun dilontarkannya tanpa bayaran. Tak berapa lama ada pasangan yang akan telah lama tak mempunyai anak berkonsultasi. Ia pun menghitung angka-angka kehidupan dari pasangan tersebut berdasarkan nama dan tanggal lahir. Ia pun memeriksa garis tangan dari pasangan tersebut. Beberapa ritual harus dilakukan pasangan ini sepulang dari tempat ini, antara lain mandi air , dangaram, mengunjungi rumahsakit, rutin meditasi harian dan berderma. Menutup sesi konsultasi ia mengelilingi badan menyarankan sang wanita menggunakan beberapa jenis bebatuan yang harus tersentuh kulit. Tak murah harga bebatuann itu, mencapai angka jutaan rupiah. Namun nampaknya kharisma dari Sangeeta memberikan rasa percaya. Rupiah pun berpindah tangan, Sangeeta kemudian menyimpan uang itu di "kuil" kecil tempat puja di mejanya. 

pengobatan dengan bebatuan - wajah ditutup untuk privasi

Selesai pasangan tersebut berkonsultasi, seorang pria keturunan tionghoa datang, Ia adalah murid dari Sangeeta. Seorang pengusaha jamu yang cukup sukses. Ia berkata ia belajar untuk dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang dilakukan dan diajarkan sangeeta adalah salah satu bentuk pengobatan. Indonesia memberikan peluang praktek pengobatan ini, tetapi perizinannya harus didapat dari departemen kehakiman. Berbeda dengan pengobatan akupuntur, atau herbal yang izin dikelola oleh departemen kesehatan.

Membaca kehidupan berdasarkan angka, bukan hanya dikenal di India . Berbagai budaya dunia seperti budaya tiongkok, mesir kuno, dan tentunya dalam budaya jawa yang memiliki pengaruh kuat dari budaya hindu. Lihat betapa sibuknya orang tua menghitung hari baik berdasarkan tanggal lahir kedua mempelai. Setiap angka memiliki arti dalam kehidupan. Percaya atau tidak adalah pilihan, tetapi melestarikan budaya sebagai harta dari perkembangan peradaban, jadi kawan tak ada salahnya untuk belajar. 

About This Blog

 
Indonesia - India Mixed Marriage Community © 2012